ALIH BAHASA/TRANSLATE

Rabu, 18 Maret 2020

DO'A KAFARAT TAKUT SIAL

loading...



Doa Kaffaroh Takut Sial

عن عبدالله بن عمر رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَنْ ردَّتْهُ الطِيَرَةُ عن حاجتِهِ فقدْ أشرَكَ قالوا : يا رسولَ وما كفارَةُ ذلِكَ قال يقولُ " اللهمَّ لا طيرَ إلَّا طيرُكَ ، ولَا خيرَ إلَّا خيرُكَ ، ولَا إلهََ إِلَّا أَنْتَ

Dari Abdullah bin Umar  radhiyallahu anhu berkata,
Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda :
“Barangsiapa dihalangi oleh perasaan takut sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah menyekutukan Allah. Sahabat berkata: Wahai Rasulullah kalau begitu apa kaffarohnya? Beliau bersabda: Hendaklah engkau membaca,

اللهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Allaahumma laa thoyro illaa thoyruka, wa laa khayro illaa khoyruka, wa laa ilaaha illaa Anta”

“Ya Allah tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Engkau tetapkan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang Engkau tetapkan, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau”.”

[HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah:1065, Shahihul Jaami’: 6264]

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1- Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.
2- Merasa takut sial sehingga terhalangi untuk melakukan suatu hajat termasuk syirik, seperti seseorang yang ingin melakukan perjalanan atau suatu pekerjaan, lalu ia mendengar suara burung tertentu, suara cecak dan yang semisalnya, ia pun membatalkan perjalanan atau pekerjaannya tersebut karena takut sial, maka ia telah menyekutukan Allah jalla wa ‘ala, sebab hanya Allah yang dapat menakdirkan kebaikan atau keburukan.
3- Sesuatu yang ditakuti dapat membawa sial pada hakikatnya tidak membahayakan sedikit pun, itu hanyalah khayalan dan tipu daya setan. Namun bisa saja Allah ta’ala menimpakan kesialan yang dikhawatirkan tersebut kepada seseorang, sebagai hukuman atasnya apabila ia tidak bersandar kepada Allah ta’ala.
4- Kebaikan seluruhnya di tangan Allah ta’ala, dan Dia saja yang Maha Mampu menimpakan kejelekan kepada seorang hamba disebabkan dosa sang hamba, serta hanya Dia yang Maha Mampu menghalangi atau menghilangkan kejelekan itu darinya.
5- Kandungan doa yang diajarkan dalam hadits ini adalah kewajiban bergantung hanya kepada Allah ta’ala dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, yaitu meyakini semua sesembahan selain Allah adalah salah, dan tidak boleh mempersembahkan ibadah apa pun kepada selain-Nya.
Contoh dari thiyaroh atau beranggapan sial:
- Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.
- Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa ‘alaihis salam.
- Menganggap bulan Suro atau bulan Muharram adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.
- Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.
- Anggapan sial dengan angka 13.
6- Solusi menghadapi takut sial dalam hadits ini dengan tiga perkara. Asy-Syaikhul ‘Allamah Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Alhasil, takut sial dihadapi dengan tiga perkara:
Pertama: Tawakkal kepada Allah ta’ala.
Kedua: Tetap melakukan hajatmu dan tidak terpengaruh dengannya, serta tidak nampak sedikit pun dalam tindakanmu, seakan ia tidak ada sama sekali.
Ketiga: Hendaklah engkau berdoa dengan doa-doa yang terdapat dalam hadits-hadits (seperti) ini, maka apabila engkau telah berdoa kepada Allah ta’ala dengan doa-doa ini, Allah ta’ala akan menyelamatkanmu dari perasaan takut sial, dan menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, bantuan-Nya dan taufiq-Nya. Wallaahu ta’ala a’lam.” [I’aanatul Mustafid, terbitan Mu’assasah Ar-Risalah 1423 H, 2/15]
7- Hadits ini juga mengandung pelajaran bahwa rasa takut sial yang syirik adalah yang menghalangi seseorang dari suatu hajat atau ia tetap melakukannya dalam keadaan gelisah dan khawatir akan tertimpa kesialan (lihat Al-Mulakhkhos, hal. 235).
8- Sebaliknya, apabila tidak memberikan pengaruh kepadanya, atau ia segera menghilangkannya dengan tawakkal dan tidak menghalanginya untuk melakukan hajatnya maka tidak termasuk syirik (lihat Al-Mulakhkhos, hal. 235).

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :*

1- Dia-lah yang memberikannya kepada hamba-Nya sesuai kehendak dan keinginan-Nya, dan Dia-lah yang menolak kejelekan dari seorang hamba dengan kekuasaan-Nya, kelembutan-Nya dan kebaikan-Nya, maka tidak ada kebaikan kecuali dari-Nya, dan Dia-lah yang menghilangkan keburukan dari hamba-Nya, maka keburukan yang menimpa seorang hamba adalah karena dosanya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka disebabkan (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisa: 79).

2- Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah.

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).Lr

Sabtu, 07 Maret 2020

BENARKAH SEDEKAH TIDAK MENGURANGI HARTA?

loading...


Takut bersedekah karena harta berkurang, benarkah.....?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda  :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta, tidaklah memberikan maaf melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan bagi seorang hamba, tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan angkat derajatnya”
[HR Imam Muslim)

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan,

قوله صلى الله عليه و سلم ( ما نقصت صدقة من مال ) ذكروا فيه وجهين احدهما معناه أنه يبارك فيه ويدفع عنه المضرات فينجبر نقص الصورة بالبركة الخفية وهذا مدرك بالحس والعادة والثاني أنه وإن نقصت صورته كان في الثواب المرتب عليه جبر لنقصه وزيادة إلى أضعاف كثيرة

‘Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam

 (مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ)

Sedekah tidak akan mengurangi harta’. Para ulama menyebutkan ada dua sisi  berkaitan dengan hadits ini.

1. sesungguhnya Allah akan memberkahi pada hartanya dan menolak bahaya menimpanya. Maka Allah akan menggantikan kekurangan jumlah hartanya dengan bentuk keberkahan yang tidak terlihat pada hartanya, hal ini dapat kita ketahui baik secara panca indera dan kebiasaan.

2. Sesungguhnya jika berkurang jumlahnya maka pahala yang dihasilkan akan menutupi kekurangan hartanya dan ditambahkan baginya pahala dengan kelipatan yang berlipat ganda.
Al Minhaj 8/ 357-358

Berkata Asy Syaikh Al ‘Utsaimin Rahimahullah :

 يعني أن الصدقات لا تنقص الأموال كما يتوهمه الإنسان ، وكما يعد به الشيطان ، فإن الشيطان كما قال الله عزّ وجلَّ: ( يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ )(البقرة: 26
الفحشاء: كل ما يستفحش من بخل أو غيره، فهو يعد الإنسان الفقر، إذا أراد الإنسان أن يتصدق قال: لا تتصدق هذا ينقص مالك، هذا يجعلك فقيراً، لا تتصدق، أمسك ، ولكن النبي صلى الله عليه وسلم أخبرنا بأن الصدقة لا تنقص المال، فإن قال قائل: كيف لا تنقص المال، والإنسان إذا كان عنده مائة فتصدق بعشرة صار عنده تسعون، فيقال : هذا نقص كمٍّ، ولكنها تزيد في الكيف، ثم يفتح الله للإنسان أبواباً من الرزق تردّ عليه ما أنفق، كما قال الله تعالى: (وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ)(سـبأ: 39)، إي يجعل بدله خلفاً، فلا تظن أنك إذا تصدقت بعشرة من مائة فصارت تسعين أن ذلك ينقص المال؛ بل يزيده بركة ونماءً، وترزق من حيث لا تحتسب.

‘Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam

 (مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ)

 ‘Sedekah tidak akan mengurangi harta, maksudnya bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, sebagaimana yang di sangka oleh manusia, sebagaimana syaitan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan
Karena sesungguhnya syaithan  sebagaiman  dalam firman Allah

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ

“Syaitan itu  menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (bakhil)”.

الْفَحْشَاءُ : Adalah setiap apa yang dianggap melampaui batas diantaranya bakhil dan lain-lain.
Maka syaithan akan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan ketika manusia ingin bersedekah.
Syaithan mengatakan, ‘Janganlah kamu bersedekah karena hal itu akan mengurangi hartamu dan menjadikanmu miskin. Jangan kamu bersedekah tahanlah hartamu. Namun Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana sedekah tidak mengurangi harta, misalnya seseorang yang disisinya ada 100 kemudian dia bersedekah 10 maka uangnya tersisa 90 ?Maka dikatakan bahwa yang berkurang adalah jumlahnya namun akan bertambah dalam kaifiyahnya (dengan  Allah akan membukakan bagi seseorang pintu pintu rezki yang akan mengembalikan atasnya apa yang telah disedekahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu infaqkan/sedekahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik Pemberi rezki”.
(QS. Sabaa’ [34] : 39)

Maksudnya Allah Subhana wa Ta’ala akan jadikan penggantinya setelahnya. Maka janganlah kamu menyangka jika kamu bersedekah 10 dari hartamu yang berjumlah 100 maka hartamu akan berkurang menjadi 90.

Bahkan yang benar bahwa Allah Subhana wa Ta’ala akan menambahkan keberkahan dan mengembangkan hartamu serta memberikanmu rezki dari arah yang tidak disangka ”

Syarh Riyadhush Sholihin  3/ 524-525

Semoga Bermanfaat

Rabu, 04 Maret 2020

SOGOK MENURUT PANDANGAN ISLAM

loading...



Perbuatan Suap/Sogok Dalam Pandangan Islam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالمُرْتَشِيَ» )رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Amr, beliau berkata: “Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan menerima suap”. (HR. al-Turmuzi)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

1. Pelarangan suap/risywah berlaku di bidang apapun. Hanya saja suap di dunia peradilan memiliki peluang yang sangat besar, karena dalam dunia peradilan perebutan hak bagi bagi orang-orang yang berperkara.

2. Bila mana suap/risywah dibolehkan maka hak jatuh ke tangan orang yang bukan pemiliknya.

3. Pelaku suap/risywah tidak akan masuk surga dan akan dimasukkan ke dalam neraka.

4. Selain laknat yang akan didapatkan oleh pelaku suap/risywah, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa orang yang memakan hasil suap/risywah, tidak akan dimasukkan ke dalam surga.

5. Suap/Risywah merupakan fenomena yang tidak asing dalam masyarakat kita. Banyak istilah yang digunakan untuk masalah ini, seperti dari ucapan terima kasih, parsel, money politik, uang pelicin, pungli dan lain sebagainya.

6. Masyarakat masih beranggapan bahwa suap/risywah bukan sebuah kejahatan, tetapi hanya kesalahan kecil. Sebagian lain, walaupun mengetahui bahwa suap/risywah adalah terlarang, namun mereka tidak peduli dengan larangan tersebut. Apalagi karena terpengaruh dengan keuntungan yang didapatkan.

7. Di pihak lain masyarakat menganggap suap/risywah itu sebagai hadiah atau tanda terima kasih. Bahkan ada yang beranggapan sebagai uang jasa atas bantuan yang telah diberikan seseorang, sehingga mereka tidak merasakan hal itu sebagai sebuah kesalahan atau pelangaran apalagi kejahatan.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an :

- Siapa yang memakan harta orang lain dengan jalan bathil, maka ia telah melakukan suap/ risywah, yaitu harta yang diberika seseorang kepada penguasa atau pegawai untuk memenangkan perkaranya atau mengalahkan orang lain dalam suatu perkara sesuai keinginannya.

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Mereka sangat suka mendengar berita-berita dusta, sangat suka memakan segala yang haram (risywah dan sebagainya). Oleh itu kalau mereka datang kepadamu, maka hukumlah di antara mereka (dengan apa yang telah diterangkan oleh Allah), atau berpalinglah dari mereka; dan kalau engkau berpaling dari mereka maka mereka tidak akan dapat membahayakanmu sedikitpun; dan jika engkau menghukum maka hukumlah di antara mereka dengan adil; kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil.[Al-Maidah: 42].